Sabtu, 12 November 2016

Analisis Sederhana Membludaknya Peserta Aksi Damai 4 November 2016

Aksi damai 4 November 2016 diikuti oleh ratusan ribu orang. Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah sebenarnya meskipun media-media menyebutkan angka 150 sampai 200 ribu orang. Bahkan ada yang menyebut jumlahnya sampai jutaan, termasuk yang dilakukan di berbagai daerah di luar Jakarta. Sebuah angka yang fantastis karena meleset jauh dari data perkiraan intelijen yang hanya berkisar 18 sampai 30 ribu orang. Hal tersebut sudah diakui sendiri oleh Presiden Joko Widodo.
 
Aksi Damai 4 November 2016

Kesalahan data intelijen tersebut sungguh memalukan untuk negara sebesar Indonesia. Intelijen mengira bahwa yang akan ikut aksi damai hanya anggota dan simpatisan ormas tertentu saja. Mereka lupa bahwa yang berkepentingan adalah umat Islam secara umum karena berurusan dengan penistaan Al Quran.

Seharusnya, mereka mencermati pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. K.H. Said Agil Siroj seminggu sebelumnya (Jumat, 28 Oktober 2016) bahwa pernyataan Ahok telah membangkitkan "macan tidur". Beliau tentu tidak sembarangan mengeluarkan pernyataan tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah "macan tidur" tersebut.

Minggu, 24 Juli 2016

Tak Putus Dirundung Longsor : Faktor Ekonomi Yang Luput dalam Mitigasi Bencana Longsor Purworejo

Bencana alam melanda sejumlah desa di Kabupaten Purworejo pada Sabtu, 18 April 2016. Hujan yang mengguyur sangat deras sejak siang hari menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir di berbagai tempat. Sekitar 43 orang dinyatakan tewas/hilang, beberapa korban luka, puluhan rumah rusak atau hancur, dan kerugian puluhan miliar rupiah.

Gambar 1. Longsor di Desa Donorati
Longsor terjadi di beberapa desa, antara lain di Desa Pacekelan, Sidomulyo, Donorati (ketiganya di Kecamatan Purworejo), Jelok (Kaligesing), dan Krangrejo (Loano). Pada kesempatatan kali ini, saya hanya akan membahas longsor di Donorati dan Karangrejo, karena merupakan kampung halaman saya dan masih di jalur perbukitan yang sama. Ada 4 titik longsor besar di sepanjang jalur Purworejo – Caok – Donorati – Sudimoro. Kriteria “besar” versi saya disini adalah tanah longsor setidaknya sampai menutupi jalan dan memutus akses transportasi. Masih ada beberapa titik longsor kecil yang tidak sampai merusak jalan atau menimbulkan kerugian lain selain tanah dan pohon-pohon yang hanyut terbawa longsor. Adapun rincian  titik-titik longsor besar adalah sebagai berikut:

1.    Dusun Caok Kulon, Desa Karangrejo, Kecamatan Loano
Lokasi GPS    : @-7.689386,110.046662
Korban Jiwa        : 17 orang ditemukan meninggal dan 1 orang luka-luka.
Kerugian        : 4 rumah tertimbun, 1 buah truk dan 13 motor tertimbun.
Kronologi       : Selepas magrib, terdapat longsoran kecil yang menutupi sebagian badan jalan. Sebuah truk yang hendak melintas tertahan material longsor sehingga sopir dan kernet berinisiatif membersihkan material longsor. Sementara itu, beberapa pemotor, yang pada umumnya sedang pulang kerja, terpaksa berhenti di belakang truk karena jalan terhalang truk dan material longsor. Sebagian besar ikut membantu membersihkan material longsor. Tiba-tiba longsor yang jauh lebih besar menghantam mereka beserta truk dan motornya. Korban longsor di sini bukan hanya penduduk setempat, tetapi juga dari desa-desa lain seperti Donorati, Tlogorejo, Sudimoro, dan Remun.
Gambar 2. Lokasi Caok Kulon Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)
Gambar 3. Lokasi Caok Kulon Sesudah Longsor 
Gambar 4. Lokasi Caok Kulon Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 5. Lokasi Caok Kulon Sesudah Longsor 


Minggu, 10 Juli 2016

Surat Terbuka untuk BPJS Kesehatan : Mengapa Orang Miskin (masih) Dilarang Sakit?

Kepada Yth:
1. Jajaran Direksi BPJS Kesehatan Republik Indonesia
2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia
3. Segenap Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia beserta para anggota,
 khususnya Komisi IX (Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan)
4. Presiden Republik Indonesia

Bapak/Ibu yang terhormat. Pada saat peluncuran program BPJS Kesehatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saat itu) mengatakan bahwa tujuan utama program ini adalah agar tidak ada lagi orang miskin yang ditolak atau diusir dari rumah sakit karena ketiadaan biaya. Akan tetapi, dalam praktiknya saat ini tujuan mulia tersebut belum terlaksana. Penolakan dan pengusiran rumah sakit kepada pasien miskin masih sering menghiasi headline media massa kita. Salah seorang rekan kami, peserta BPJS Kesehatan, pun mengalami hal yang demikian, bahkan hingga ajal menjemputnya. Perkenankanlah kami paparkan lika-liku lengkapnya sebagai berikut.

---****---

Sejak akhir Maret 2016, salah seorang rekan kerja kami yang berinisial AS sering mengeluh kurang enak badan, kepala pusing, dan mudah capek. Karena dikira hanya masuk angin biasa, pengobatan hanya dilakukan dengan kerokan dan minum obat warung. Pada tanggal 11 sampai 14 April 2016, mulai timbul gejala – gejala, seperti nyeri kepala hebat, tangan dan kaki terasa lemas, penglihatan ganda, wajah sebelah kiri mati rasa, dan bentuk wajah tidak simetris. AS masih masuk kerja sampai tanggal 14 April 2016 karena (sekali lagi) masih menganggap penyakit biasa. Atas bujukan rekan-rekan kerja, pada tanggal 14 April 2016, AS memeriksakan diri ke poliklinik pabrik. Diagnosis awal dari dokter poliklinik adalah stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA).

Jumat, 15 April 2016, AS memeriksakan diri ke Ciputra Hospital, Citra Raya, Tangerang diantar oleh istrinya menggunakan sepeda motor. Ia menggunakan fasilitas asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan. Sayangnya, benefit asuransi untuk rawat jalannya sudah habis. Padahal harus dilakukan CT Scan untuk diagnosis detail penyakitnya yang memerlukan biaya cukup mahal. Ia pun pulang ke rumah tanpa mendapatkan penanganan.

Sabtu, 16 April 2016, AS meminta bantuan salah seorang rekan kami yang memiliki mobil untuk mengantarkan ke RS Siloam Karawaci Tangerang karena sakit kepala semakin tak tertahankan dan tidak kuat kalau naik motor. Atas usaha berbagai pihak, AS dirawat inap di RS Siloam dan hasil diagnosis lanjutan disimpulkan ada tumor di belakang hidungnya. Pada 19 April 2016 dilakukan operasi pengambilan sampel untuk mengetahui tingkat keganasannya dan diperoleh kesimpulan bahwa terdapat kanker ganas di belakang hidungnya. Sayang seribu sayang, benefit rawat inap asuransinya pun sudah habis karena pada awal Februari 2016, ia sempat sakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Dengan sangat terpaksa, keluarga membawanya pulang karena tidak mampu membayar sendiri biaya rumah sakit. AS kemudian beralih menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat.

Minggu, 12 Juni 2016

Tips Menjadi Bahagia ala Orang Korea

Dalam postingan sebelumnya, saya menulis mengenai faktor-faktor pendukung kemajuan Korea Selatan. Salah satu faktor tersebut adalah etos kerja yang sangat tinggi. Selain membawa dampak positif terhadap kemajuan bangsanya, ternyata juga membawa dampak negatif, yakni yakni tingkat stress yang tinggi dan indeks kebahagiaan yang rendah. Pada tahun 2016 ini, Korea Selatan hanya menempati posisi ke-58 Indeks Kebahagiaan Dunia dengan 5.835 poin, tidak terlalu jauh dengan Indonesia yang ada diperingkat ke-79 (5.314 poin), tapi terpaut cukup jauh dengan Denmark yang ada di posisi pertama (7.526 poin).

Pemerintah dan masyarakat Korea Selatan nampaknya menyadari masalah tersebut. Kampanye-kampanye untuk meningkatkan indeks kebahagiaan mulai digalakkan, terutama di perusahaan, pabrik, dan perkantoran, dengan membatasi jam kerja lembur dan melarang karyawan untuk lembur sama sekali pada hari-hari tertentu. Pada hari dimana karyawan wajib pulang tepat waktu, biasanya seminggu sekali pada Hari Rabu, diharapkan mereka mengisi waktunya dengan melakukan hobi yang disenanginya atau berkumpul dengan keluarga tercinta. Oleh karena itu, hari khusus tersebut biasa disebut sebagai Hobby Day atau Family Day.

Tips-tips untuk membuat diri sendiri bahagia juga diselipkan dalam materi pelatihan (training), workshop, dan seminar. Saya pernah menerima materi tips menjadi bahagia (the way to make yourself be happy) saat mengikuti suatu workshop. Tips ini saya peroleh dari Mr. Sungkeun Seo, salah seorang eksekutif LG Corp. Gambar-gambar ilustrasi saya ambil dari materi presentasi beliau.

Senin, 18 April 2016

Belajar dari Kesuksesan Korea Selatan : Strategi Pembangunan yang Jitu dan Mentalitas yang Maju

Ada satu tema yang menggelitik (dan memalukan) saat berbincang-bincang dengan orang Korea (Selatan), yakni hari proklamasi kemerdekaan. Tahukah Anda kalau proklamasi kemerdekaan Indonesia dan Korea hanya selisih dua hari saja? Proklamasi kemerdekaan Korea adalah tanggal 15 Agustus 1945 sedangkan Indonesia 17 Agustus 1945. Satu lagi faktanya, Korea dan Indonesia sama-sama memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Jepang. Akan tetapi, kalau kita bandingkan kondisi Indonesia dan Korea saat ini bagaikan bumi dan langit. Korea dengan segala kemajuannya berhasil menjadi negara sangat berpengaruh di dunia di berbagi bidang. Di bidang politik internasional, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa saat ini dijabat oleh Ban Ki-Moon yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan. Di bidang ekonomi, Korea Selatan merupakan salah sat negara anggota G20 dan produk domestic bruto (GDP)-nya adalah yang terbesar ke-11 di dunia. Di bidang budaya, K-Pop dan K-Drama menyebar secara luas ke seluruh dunia, sebuah fenomena yang disebut sebagai Korean Wave. Di bidang teknologi pun sangat mentereng. Samsung adalah produsen smartphone terbesar di dunia saat ini. Korea Selatan juga merupakan negara dengan kecepatan internet tercepat di dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih disibukkan dengan konflik horizontal dan kegaduhan politik yang tidak pernah ada juntrungnya.

Bendera Korea Selatan
Pada awal-awal masa kemerdekaan, Korea dan Indonesia menghadapi masalah yang sama, yakni kemiskinan dan berbagai macam pemberontakan. Bahkan, Korea terpisah menjadi 2 pada tahun 1948 menjadi Republic of Korea (South Korea) dan Democratic People’s Republic of Korea (North Korea). Indonesia beruntung tidak sampai terpecah belah walaupun mengalami berbagai macam pemberontakan. Penduduk Korea bahkan banyak yang mengalami kelaparan saat itu. Indonesia pun menghadapi problem kemiskinan yang rumit setelah dijajah selama ratusan tahun. Ada satu perbedaan mencolok antara Korea dan Indonesia, yakni Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam sedangkan Korea hampir tidak punya. Akan tetapi, bangsa Korea tidak mudah menyerah oleh kondisi alam dan geografis yang tidak menguntungkan. Mereka berusaha memaksimalkan sumber daya yang terbatas hingga berhasil menjadi negara maju seperti saat ini.

Minggu, 27 Maret 2016

Stop Eksploitasi Anak! Heal The World We Live In, Save It For Our Children

Beberapa hari terakhir ini, media massa nasional kembali mengangkat berita mengenai eksploitasi anak. Hal itu terjadi setelah pada Hari Kamis (24/3/2016) Polres Jakarta Selatan menangkap 4 orang pelaku eksploitasi anak di sekitar Blok M. Para pelaku menyewakan anak untuk dipaksa mengemis, mengamen, atau menjadi joki 3 in 1. Jika menolak, mereka akan dipukul atau ditampar. Salah satu korban eksploitasi bahkan bayi berusia 6 bulan. Bayi tersebut dibawa mengemis agar orang-orang yang melihatnya merasa iba dan memberi banyak uang. Bayi akan diberi obat penenang agar tidak rewel saat diajak mengemis.

Beragam reaksi masyarakat atas muncul atas berita penangkapan pelaku eksploitasi anak tersebut, terutama para netizen. Umumnya mereka bersyukur atas penangkapan tersebut, tetapi juga menyayangkan mengapa baru sekarang dilakukan. Kasus eksploitasi anak untuk tujuan ekonomi seperti itu memang bukan hal baru. Hampir di semua kota besar di Indonesia dapat kita temui ibu-ibu mengemis dengan mengendong anak kecil yang tidak pernah menangis atau anak-anak mengamen dengan menyodorkan amplop kecil bertuliskan permintaan belas kasihan untuk biaya hidup dan sekolah. Tempat bereka beroperasi biasanya di bis kota, terminal, halte, stasiun, dan perempatan jalan yang ramai.

Sebagai orang yang tinggal di kota besar, tepatnya Serpong, Tangerang Selatan, saya pun sering menyaksikan pemandangan di atas. Akan tetapi, baru sekali ini memergoki “pengasuh”nya. Dua hari sebelum kasus ini ramai diberitakan, Selasa (22/3/2016) sekitar pukul 06.20 saya menyaksikan langsung praktik eksploitasi anak di perempatan German Center, BSD. Seperti  biasa, saya menunggu bus jemputan kantor di halte sebelah Lapangan Sunburst. Di sebelah saya ada seorang ibu paruh baya. Awalnya saya mengira ibu tersebut sedang menunggu bus atau angkot. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 ~ 5 tahun menghampiri dan memanggilnya “Mami” sambil menyerahkan segepok amplop. Si anak berkata dengan nada takut bahwa ia baru dapat sedikit. Saya tidak ingat persis kata-kata si anak karena sangat terkejut. Si ibu menggumamkan sesuatu sambil memasukkan amplop-amplop ke dalam tas cokelat yang dibawanya kemudian mengambil segepok amplop yang lain. Sejurus kemudian ia menyerahkan amplop-amplop yang baru tersebut ke si anak. Si anak langsung kembali ke perempatan menyelip di antara mobil-mobil yang sedang berhenti di lampu merah. Saat itu, saya sudah sadar dari keterkejutan dan menyadari bahwa peristiwa barusan adalah salah satu bentuk eksploitasi anak. Saya sempatkan untuk memotret si anak walau sudah menjauh. Si ibu juga berhasil saya ambil gambarnya. Dengan diam-diam tentunya. Tak lama kemudian bus jemputan datang. Ketika saya sudah duduk di dalam bis, saya sempatkan untuk menengok si ibu. Saya terkejut untuk kedua kalinya. Di samping si ibu duduk ada seorang anak perempuan sedang tertidur lelap di bangku halte. Pakaian dan tubuhnya tampak kotor. Sayang, saya tidak sempat memotretnya karena bus keburu jalan.

Minggu, 20 Maret 2016

Awas!!! Penipuan Modus Tebar Kupon Di Depan Rumah Marak Lagi

Sabtu pagi (3/19) kemarin, saya menemukan sesuatu yang tidak biasa saat pertama keluar rumah untuk sekedar menghirup udara pagi. Begitu membuka pintu depan, mata saya langsung tertuju pada sebuah bungkusan plastik kecil berukuran sekitar 3 cm x 6 cm. Karena penasaran, saya langsung mengambilnya. Bungkusannya sangat rapi dan didalamnya  terdapat kertas yang dilipat begitu rapi pula. Semakin penasaran, saya pun membuka bungkus plastiknya. Didalamnya terdapat 2 carik kertas dan 1 buah kupon. Satu kertas adalah surat pemberitahuan pemenang yang menerangkan bahwa siapapun yang menemukan kupon tersebut mendapatkan hadiah 1 unit mobil Toyota Avanza dari PT Harum Alam Segar selaku produsen Top Kopi. Sementara itu, satu kertas lain merupakan surat izin penyelenggaraan acara dari Polda Metro Jaya. Di situ juga dicantumkan pejabat-pejabat yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut, antara lain Dr. Naldy Suparman (direktur PT Harum Alam Segar), Kombes Pol Drs. Diki Riansyah, S.H., M.Hum. (Dirlantas Polda Metro Jaya), Dra. Hj. Resti Ayunita (Departemen Sosial), dan Drs. M. Irwanto, S.H. (notaris/pengacara).
Kupon di letakkan di depan pintu rumah

Minggu, 13 Maret 2016

Fenomena Maraknya Sharing Berita Hoax : Dari Malas Berpikir Sampai Fanatik Buta

Media sosial (medsos) berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Saat ini, fungsi tidak hanya sebagai ajang pertemanan saja, tetapi juga sebagai media berbagi informasi (sharing), ajang promosi bisnis, sampai kampanye politik. Sayang, tidak semua kegiatan di atas beraroma positif. Saat musim kampanye legislatif, presiden, gubernur, bupati, atau walikota, pendukung calon-calon yang bertarung banyak memanfaatkan medsos  untuk saling menyerang dan menjatuhkan lawan, bahkan cenderung kepada kampanye hitam (black campaign). Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah dengan membagi (share) berita, artikel, atau status yang menguntungkan pihaknya dan menyerang pihak lawan. Sialnya, apa yang mereka sebar dan bagikan banyak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat Indonesia memang sangat mudah tenggelam dalam euforia terhadap sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Saat menjelang pemilu, hampir semua orang akan tenggelam dalam hingar bingar kampanye. Ketika piala dunia sedang berlangsung, sepak bola akan menjadi topik yang dibahas oleh berbagai kalangan. Begitu pula ketika ada gejolak atau fenomena tertentu di masyarakat. Berkat medsos, kejadian kecil pun bisa booming hingga seluruh pelosok negeri. Berawal dari hingar bingar semacam inilah para pengguna medsos mulai rajin untuk berbagi informasi mengenai topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Lama-kelamaan, beberapa orang pun berusaha untuk “menciptakan” trending topic sendiri. Apapun yang menurutnya menarik, akan dibagikan di akun medsos miliknya tanpa dicek terlebih dahulu kebenaran informasinya.

Senin, 22 Februari 2016

Fenomena Money Game :Ketika Si Malas dan Si Culas Bertemu

Dalam beberapa tahun belakangan, pemberitaan mengenai investasi bodong cukup marak di Indonesia. Salah satu contoh yang paling heboh adalah MMM (Manusia Membantu Manusia/Mavrodi Mondial Moneybox). Kasus terakhir adalah D4F (Dream for Freedom). Sejak Selasa (16/2) situs resminya offline. Otomatis pembayaran profit buat pesertanya pun mandek. Hal serupa pernah terjadi pada MMM tahun lalu.

Penawaran investasi bodong marak dalam 10 tahun terakhir dalam berbagai bentuk. Mulai dari janji pencairan harta karun Bung Karno/harta revolusi, koperasi gadungan, investasi untuk menanam pohon tertentu, investasi emas dengan harga di atas harga pasaran, jual beli e-book yang tidak berharga, money game berkedok MLM, sampai terang-terangan mengaku money game. Dari berbagai macam bentuk investasi bodong tersebut, money game adalah cara yang paling banyak dipakai untuk melakukan penipuan investasi bodong. MMM dan D4F merupakan penipuan dengan bentuk money game.

Money game menggunakan skema yang disebut Skema Ponzi atau Skema Piramida. Istilah lainnya adalah arisan berantai atau member get member. Cara kerjanya sebenarnya sederhana dan mudah dipahami semua orang. Untuk bergabung, kita diharuskan untuk mentransfer sejumlah uang ke member yang sudah bergabung terlebih dahulu dan menjadi ‘atasan’ (upline) kita. Kita diharuskan untuk mentransfer sampai beberapa level upline (biasanya 3 ~5 level). Selanjutnya ada yang mengharuskan kita mencari member baru untuk menjadi ‘bawahan’ (downline). Semakin banyak kita mendapatkan downline semakin cepat dan semakin banyak ‘hasil investasi’ yang kita dapatkan. Ada pula yang member barunya direkrut by sistem. Cara yang terakhir tidak mengharuskan kita merekrut downline. Kita akan mendapat jatah downline setiap kali ada member baru bergabung.

Disebut money game karena uang hanya berputar-putar pada member saja tanpa diinvestasikan pada bisnis riil untuk menghasilkan laba. Sistem ini akan cepat runtuh karena semakin lama akan semakin sulit mencari member baru, sementara tagihan semakin membengkak. Kalau sudah begini, pelaku Ponzi akan mecari-cari alasan untuk menutup sistemnya dan kabur dengan membawa aset besar yang telah dikumpulkan. Siapa yang untung dan siapa yang rugi? Yang untung adalah perusahaan yang membuat sistem Ponzi dan segelintir member yang bergabung saat awal sistem dibuka. Yang rugi adalah sebagian besar member yang bergabung belakangan.

Minggu, 14 Februari 2016

Pentingnya Pendidikan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) dan Tanggung Jawab Asasi Manusia (TAM) untuk Mencegah Konflik Horisontal di Indonesia

Indonesia adalah negara multikultural terbesar di dunia dengan keanekaragaman dalam berbagai hal, mulai dari suku bangsa, budaya, hingga agama. Kebhinekaan tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling berlawanan. Di satu sisi, perbedaan merupakan suatu rahmat agar kita bisa saling mengenal dan menghargai satu sama lain. Akan tetapi, di sisi lain, perbedaan seringkali melahirkan friksi dan gesekan horisontal yang mengancam keutuhan bangsa. Berbagai kasus konflik harisontal berskala besar pernah terjadi di tanah air. Sejak era reformasi, kita sudah beberapa kali mengalami konflik horisontal berskala besar seperti konflik Ambon, konflik Poso, konflik Sambas, konflik Lampung Selatan, dan kasus terbaru adalah kasus yang terjadi di Tolikara, Papua. Belum lagi ratusan konflik berskala yang lebih kecil yang seringkali menghiasi pemberitaan media di tanah air.

Konflik terjadi akibat adanya kepentingan manusia dan upaya pemenuhan kepentingan itu bersinggungan dengan kepentingan orang atau kelompok manusia lain. Ketidakpahaman terhadap kepentingan sesama individu maupun kelompok masyarakat melahirkan sikap intoleransi terhadap individu atau kelompok lain. Hal ini diperparah oleh kesadaran berbangsa dan bernegara yang rendah. Konflik-konflik horisontal seperti itu tidak seharusnya terjadi di negara yang mempunya semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan tersebut bermakna bahwa keanekaragaman yang dimiliki Bangsa Indonesia adalah sebagai pemersatu bukan pemecah belah. Oleh karena itu, konflik-konflik serupa tidak boleh lagi terjadi di masa mendatang. Pemahaman mengenai hak, kewajiban, dan tanggung jawab kita sebagai bangsa multikultural harus ditanamkan sejak dini pada masyarakat Indonesia, salah satunya melalui kurikulum pendidikan formal di sekolah atau kampus. Hal itu sejalan dengan program revolusi mental yang digaungkan pemerintah saat ini. Mental bangsa Indonesia harus diubah agar tidak hanya bisa menuntut hak tetapi juga mampu menjalankan kewajiban dan mengemban tanggung jawab dengan baik.

Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada jenjang sekolah dasar dan menengah hampir tidak memuat materi tentang Kewajiban Asasi Manusia (KAM) dan Tanggung Jawab Asasi Manusia (TAM). Titik berat pembelajaran hanya pada Hak Asasi Manusia (HAM), seperti pengertian HAM, hak dan kewajiban individu, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen HAM nasional dan internasional, serta perlindungan dan penegakan HAM. KAM dan TAM juga disinggung dalam kurikulum tersebut, tetapi dalam porsi yang sangat kecil. Padahal, untuk menciptakan masyarakat yang bebas, adil, dan damai, hak dan tangung jawab harus disejajarkan kepentingannya. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran mengenai KAM dan TAM sudah saatnya mendapat porsi lebih banyak.

Selasa, 14 Januari 2014

Mushola di Incheon International Airport

Bagi seorang muslim, berkunjung ke negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim menjadi tantangan tersendiri untuk tetap konsisten menjalankan ibadah, terutama sholat. Tidak akan menjadi masalah besar kalau kita berada di rumah atau kantor karena dengan mudah kita dapat menemukan tempat untuk menjalankannya. Persoalan sesungguhnya terjadi saat berada di tempat umum. Salah satunya adalah ketika harus transit cukup lama di bandara. Saya akan berbagi pengalaman ketika transit di Incheon International Airport, Korea Selatan.
Setelah tuntas tiga bulan menunaikan tugas di negeri ginseng, saya menunggu hari kepulangan dengan tidak sabar. Salah satu hal yang mengusik hati saya adalah jadwal penerbangan mengharuskan saya menunggu cukup lama di Bandara Internasional Incheon. Dari Changwon tempat saya bertugas, saya harus ke Busan terlebih dahulu mengunakan bus selama sekitar 45 menit sebelum terbang dari Gimhae Airport menuju Incheon Airport. Di sinilah masalahnya. Saya harus transit dan menunggu pesawat ke Jakarta selama kurang lebih 4 jam, dari pukul 11.30 sampai 15.30. Tentu saja saya harus melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar di sini. Informasi dari beberapa teman mengatakan bahwa terdapat mushola di bandara terbaik di dunia ini. Hal ini tentu sangat melegakan. Saya tidak perlu repot-repot mencari tempat untuk sholat Setiba di Incheon, saya pun langsung bertanya ke petugas informasi mengenai letak mushola di sana. Saya kemudian diberitahu bahwa mushola (prayer room) terletak di sebelah ruang tunggu penumpang Gate 24. Tidak sulit untuk menemukannya karena papan petunjuk di bandara ini benar – benar sangat membantu.

Rabu, 16 Juni 2010

Jubah Sihir Bukan Lagi Impian

Bagi penggemar novel dan film Harry Potter tentu tak asing dengan jubah sihir (magic cloak) mampu membuat orang menjadi tak terlihat bila memakinya. Pada beberapa film lain juga mengisahkan tentang benda-benda yang tak terlihat, seperti mobil milik agen rahasia Inggris, James Bond. Ketertarikan pada ketakterlihatan (invisibility) memang sudah belangsung selama ribuan tahun. Pada buku karangan Plato “Republic” dikisahkan tentang cincin yang tak terlihat.

Saat ini, cerita mengenai benda-benda yang tak terlihat bukanlah cerita fiksi ilmiah semata. Ilmuwan di Amerika Serikat telah mampu membuat material yang dapat membuat sesuatu menjadi tak terlihat. Para ilmuwan tersebut berasal dari University of California in Berkeley dan Lawrence Berkeley National Laboratory. Penelitian yang mereka lakukan juga didukung oleh America's National Science Foundation dan pihak militer Amerika Serikat.

Prinsip yang digunakan untuk membuat suatu objek menjadi tak terlihat sebenarnya cukup sederhana. Kita dapat melihat suatu objek karena ada cahaya yang jatuh pada objek tersebut dan mata kita menerima pantulan cahaya dari objek tersebut. Untuk membuat suatu objek menjadi tak terlihat, kita perlu mengarahkan cahaya pantulan tersebut agar tidak sampai ke mata kita. Peneliti dari California berhasil melakukan hal tersebut dengan suatu material yang disebut metamaterial. Metamaterial merupakan material dengan ukuran molekul yang sangat kecil (dalam satuan nanometer) yang dibuat dengan suatu proses yang disebut nanoengineering.

Dengan metamaterial, para peneliti membuat sebuah prisma khusus. Pada umumnya, sebuah prisma mempunyai beberapa bidang permukaan datar. Prisma biasanya mampu membagi sinar putih yang tak nampak menjadi warna-warni. Prisma dari metamaterial bekerja sebaliknya. Prisma tersebut membuat sinar warna-warni menjadi sinar putih.

Untuk membuat objek menjadi tak terlihat, para peneliti mendesain metamaterial menjadi bentuk seperti jaring ikan. Jaring tersebut terbuat dari kawat perak berukuran nano. Setiap kawat berukuran kira-kira sepuluh ribu kali lebih tipis daripada rambut manusia. Metamaterial ini sukses “menyembunyikan” objek yang digunakan dalam penelitian.

Sampai saat ini teknologi “menyembunyikan” suatu objek agar tak terlihat memang masih dalam tahap penelitian. Artinya, teknologi tersebut belum dapat diaplikasikan untuk tujuan praktis. Selain itu, teknologi ini juga masih sangat mahal. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan teknologi ini sudah berkembang dengan baik. So, memiliki jubah sihir Harry Potter bukanlah sebuah khayalan belaka.

Kamis, 14 Januari 2010

Antara Originally atau Technically Virgin

Postingan ini merupakan hasil ‘diskusi’ saya dan dua orang kenalan saya (satu lelaki 32 tahun sudah menikah dan satunya lagi wanita 25 tahun belum menikah, keduanya mahasiswa S2 Sejarah). Entah bagaimana obrolan yang semula ngalor ngidul tidak karuan berubah menjadi ‘diskusi’ yang cukup serius. Saya tergerak untuk menuliskan postingan ini karena beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang betapa banyak para remaja yang ‘melepaskan’ keperawanannnya pada malam tahun baru. Fenomena seperti itu menarik untuk dicermati karena saat ini nilai keperawanan tampak begitu murah, jauh berbeda dengan beberapa abad silam.

Sebelum abad ke-19, ketika perkembangan sains dan teknologi belum begitu pesat, nilai keperawanan benar-benar dijunjung tinggi. Hal tersebut berlaku baik di belahan bumi bagian barat maupun bagian timur. Dalam film Robinhood: Prince of Thieves, seorang bandit musuh Robinhood yang ingin menodai Marion harus berjibaku berebut anak kunci guna melampiaskan birahinya karena kendati busana sang kekasih Robinhood sudah tuntas terlucuti namun niatnya terhalang sabuk keperawanan yang dikenakan Marion. Alhasil sang bandit pun gagal melaksanakan niatnya. Film tersebut merupakan gambaran masyarakat Eropa di abad pertengahan. Para perawan bangsawan dipersenjatai dengan chastity belt, yaitu sabuk keperawanan dari besi yang dilengkapi gembok dan lubang kunci untuk menjaga kesucian mereka. Benar-benar sebuah penjagaan dalam arti yang sesungguhnya.

Ternyata, penggunaan pelindung keperawanan juga terdapat di Indonesia. Permaisuri dan putri raja Surakarta pada zaman dahulu pun menggunakan badong untuk melindungi kesucian mereka. Badong mempunyai fungsi yang sama dengan chastity belt. Saat ini, keberadaan badong masih tersimpan rapi di Museum Keraton Surakarta.

Dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el Saadawi dituturkan mengenai kebiasaan masyarakat tradisional Arab mengarak potongan kain bernoda darah keperawanan seorang pengantin wanita pada malam pertamanya. Sebuah tradisi yang dilestarikan untuk menjunjung nilai sebuah keperawanan sebagai simbol peradaban moral. Tradisi semacam ini pun juga terdapat dalam beberapa suku tradisional di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Akan tetapi, tradisi tersebut dapat dikatakan sebuah tradisi yang bersifat naif karena seorang pengantin perempuan bisa saja tidak mengeluarkan darah pada malam pertamanya. Dari sudut pandang medis, hal itu bisa saja terjadi karena hymen atau selaput daranya sangat alot. Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Selaput daranya telah robek saat ia bersepeda, jogging, atau terjatuh karena selaput daranya begitu tipis.

Kondisi di atas memunculkan polemik mengenai arti keperawanan yang sesungguhnya. Dalam bahasa Inggris, kata keperawanan (virginity) berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Bagi laki-laki, virginity dapat diartikan sebagai keperjakaan. Secara tradisional, seseorang dikatakan perawan atau perjaka jika ia belum pernah melakukan hubungan seksual sama sekali. Jadi, seorang perempuan yang robek selaput daranya bukan karena hubungan seksual masih disebut perawan. Hal itu jelas berbeda dengan pengertian medis. Secara medis, keperawanan ditentukan oleh robek atau tidaknya selaput dara seorang wanita. Artinya, wanita yang selaput daranya robek karena terjatuh sudah tidak perawan lagi sekalipun ia belum pernah melakukan hubungan seksual.

Kedua pengertian di atas sulit dikompromikan karena dilihat dari kacamata yang berbeda. Bisa jadi seorang perempuan secara tradisional (originally) masih perawan tetapi secara teknis (technically) tidak atau sebaliknya. Kondisi itulah yang memunculkan istilah “gadis bukan perawan”. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi laki-laki. Laki-laki mungkin tidak dihadapkan dengan masalah originally virgin atau technically virgin karena fakta anatomis bahwa laki-laki tidak memiliki bekas ketika sudah tidak perjaka. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, seorang laki-laki dapat pula dipertanyakan kadar keperjakaannya. Apakah sang lelaki juga originally virgin dalam artian tidak pernah berhubungan seks maupun aktivitas seks yang menjurus seperti onani, petting, atau seks oral? Atau ia hanya technically virgin yakni hanya tidak pernah berhubungan seks dalam artian senggama sementara yang lain sudah khatam dijalaninya?

Relevansi keperawanan dan keperjakaan sebagai standar moral dalam masyarakat saat ini mungkin sudah sangat luntur dibandingkan zaman kakek dan nenek kita dahulu. Sebagaimana sudah saya sebutkan di depan, banyak remaja sekarang yang dengan sukarela beramai-ramai melepaskan keperawanannya pada peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya tahun baru, Valentine Day, atau pada saat perayaan kelulusan sekolah. Sungguh miris saat membaca buku Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Di tengah masyarakat Indonesia yang dikenal religius, budaya free sex ternyata sudah berkembang begitu suburnya di kota-kota besar. Keperawanan yang bagi sebagian kalangan dianggap begitu sakral diobral begitu murah.

Terlepas dari semua itu, kita memang dibebaskan untuk memaknai hakikat keperawanan atau keperjakaan. Akan tetapi, harus kita renungkan bahwa pergeseran nilai keperawanan tersebut barangkali merupakan salah satu tanda akhir zaman yang kerap disitir Nabi Muhammad SAW. Pada zaman seperti ini, mempertahankan keimanan memang sangat sulit, layaknya menggenggam bara api di telapak tangan. Oleh karena itu, semua dikembalikan pada individu masing-masing. Sudah siapkah bekal kita untuk menghadapi akhir zaman???

Kamis, 10 Desember 2009

Menjadi Pribadi yang Unik

Banyak dari kita yang sering merasa minder atau kurang percaya diri karena sering dibandingkan-bandingkan dengan orang lain yang dianggap mempunyai “sesuatu yang lebih” daripada kita. Orang yang sering membanding-bandingkan kita dengan orang lain adalah orang-orang terdekat kita, terutama orang tua. Seringkali kita dengar kalimat, “Lihat Si A! Ujian matematikanya dapat 100, mengapa kamu hanya dapat 60?” atau “Adikmu saja dapat rangking satu, kamu masuk sepuluh besar saja tidak.”

Banyak orang tua tidak menyadari bahwa membanding-bandingkan anaknya dengan anak yang lain justru membuat sang anak semakin tidak percaya diri. Akibatnya, potensi yang dimiliki sang anak menjadi tidak terkelola dengan baik karena orang tua mengarahkannya pada kegiatan yang justru bukan menjadi keinginan dan potensinya. Tak jarang sang anak menjadi stres dan lebih memilih mencari pelampiasan dengan hal-hal yang kurang positif, seperti minuman keras dan narkoba.

Bagaimana kalau kita mengalami hal di atas? Jika kita sering dibanding-bandingkan dengan orang lain yang tidak sesuai dengan potensi dan kepribadian kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyakini bahwa setiap orang adalah unik. Tidak ada dua orang pun di dunia ini yang persis sama, bahkan kembar identik sekalipun. Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan setiap orang dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Secara genetis, setiap orang mempunyai gen yang berbeda, kecuali dua orang kembar identik. Kita bisa sangat berbeda dengan saudara kandung kita, baik secara fisik maupun kemapuan, karena variasi genetik yang kita peroleh dari orang tua kita. Perhatikan fakta berikut! Dalam setiap sel tubuh manusia terdapat 23 pasang (46 buah) kromosom yang di dalamnya terdapat gen-gen penentu kehidupan kita. Sperma dan sel telur hanya mengandung separuh dari kromosom yang terdapat dalam sel tubuh, yakni 23 buah. Dengan begitu, setiap individu mampu menghasilkan 2^23 atau 8 388 608 kemungkinan variasi genetik dalam sperma atau sel telur. Proses penciptaan manusia yang diawali oleh pertemuan antara sperma dari ayah dan sel telur dari ibu menghasilkan 8 388 608 x 8 388 608 atau lebih dari 70 triliun kemungkinan variasi genetik pada anak-anaknya. Artinya, jika sepasang suami istri bisa mempunyai 70 triliun anak pun, semua anaknya akan mempunyai sifat yang berbeda-beda.

Dengan fakta di atas, kita tidak perlu lagi merasa cemas karena berbeda dengan saudara kita. Yakinlah bahwa Anda adalah pribadi yang unik. Kalau Anda tidak memiliki kelebihan yang dimiliki saudara Anda, janganlah berkecil hati karena potensi yang Anda miliki berbeda dengannya. Yakinlah bahwa Anda bisa menjadi lebih baik dengan potensi milik Anda sendiri.

Selasa, 08 Desember 2009

Altruistic Behavior

Saat ini, kata altruisme mungkin jarang kita dengar atau baca. Secara sederhana, altruisme dapat diartikan sebagai tindakan berkorban untuk orang lain tanpa menghiraukan kepentingannya sendiri. Dengan kata lain, altruisme merupakan kebalikan dari kata egoisme. Altruisme merupakan aspek dasar dalam berbagai macam kebudayaan dan agama. Perilaku yang sesuai dengan paham altruisme disebut perilaku altruistik (altruistic behavior). Paham altruisme sangat sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yakni dalam semangat “gotong royong”. Semboyan “dahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi” merupakan salah satu cerminan paham ini dalam masyarakat Indonesia.

Altruisme harus dibedakan dengan perasaan kesetiakawanan dan kewajiban. Altruisme berfokus pada motivasi untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Seseorang yang setia pada suatu oraganisasi, partai politik, atau orang lain dengan berharap mendapat sesuatu darinya tidak dapat dikatakan berperilaku altruistik. Perilaku altruistik yang paling mudah kita jumpai tentu dalam sebuah keluarga. Ayah dan ibu sebagai orang tua akan selalu bekerja susah payah untuk membahagiakan anak-anaknya. Tidak ada yang diharapkan oleh orang tua dari anaknya, kecuali melihat anaknya bahagia.

Dalam kehidupan sosial yang lebih luas, saling menolong dan bergotong royong dalam masyarakat juga merupakan bentuk perilaku altruisme. Contoh lain adalah membantu korban bencana alam, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, dan membantu pembangunan jalan, rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Menariknya, perilaku altruistik juga dapat dijumpai pada binatang. Kita semua tentu mengetahui bahwa induk ayam rela mengerami telurnya selama 21 hari agar anaknya bisa menetas. Induk ayam mengorbankan kebahagiaan dirinya dengan berpuasa dan hanya makan sekali tiap hari.

Contoh yang jauh lebih menarik terdapat dalam koloni Tikus Mondok Telanjang (Heterocephalus glaber). Tikus Mondok Telanjang merupakan tikus yang hidup dalam lubang-lubang di tanah di Afrika Timur. Tikus jenis ini hampir tidak memiliki rambut. Tikus Mondok Telanjang mempunyai struktur sosial yang mirip dengan rayap, yakni dipimpin oleh seorang ratu, ada tikus yang menjadi pekerja, dan ada tikus yang menjadi tentara. Satu koloni bisa dihuni oleh 20 sampai 300 ekor tikus. Ketika lubang sarang mereka kedatangan musuh yang ingin memangsa mereka, misalnya ular, seekor tikus yang pertama kali mengetahui kejadian itu akan mencicit dengan keras untuk memberitahu anggota koloni lainnya agar menyelamatkan diri. Sementara itu, tikus tadi justru menghampiri calon pemangsanya sehingga ia pun dimangsa dan mengorbankan dirinya agar teman-temannnya selamat.

Hal yang sama terjadi pada Tupai Darat. Ketika seekor elang mendekati kawanan tupai, seekor tupai yang pertama kali menyadari kehadiran musuh akan menjerit dengan keras memperingatkan teman-temannya. Elang akan langsung menukik dan menyambar tupai yang menjerit sementara tupai yang lain berlari menyelamatkan diri. Perilaku kedua hewan di atas sungguh sangat mengagumkan. Mereka bahkan rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan anggota keluarga dan teman-temannnya.
Masih ada beberapa perilaku altruistik yang ditunjukkan oleh beberapa jenis binatang. Bapak dan ibu penguin rela mengerami telur mereka secara bergantian selama 6 bulan di tengah dinginnnya badai salju. Seekor induk anjing seringkali “mengadopsi” anak kucing, tupai, bahkan harimau yang yatim. Kawanan lumba-lumba menolong rekan mereka yang terluka dengan berenang selama berjam-jam di bawahnya dan mendorongnya ke permukaan agar ia dapat bernapas. Serigala dan anjing liar akan membawakan daging hasil buruan kepada anggota kelompoknya yang tidak hadir saat penangkapan.

Kita sepatutnya dapat belajar dari perilaku hewan-hewan di atas karena dalam kehidupan modern saat ini, paham altruisme sudah mulai luntur. Paham-paham baru yang bermunculan, seperti materialisme, paganisme, dan hedonisme, secara perlahan-lahan tapi pasti menggusur altruisme dari kehidupan bangsa Indonesia. Hal tersebut tentu sangat ironis karena seharusnya kita tidak kehilangan identitas dan jati diri pada zaman modern seperti ini. Sudah saatnya manusia belajar dari perilaku binatang-binatang yang rela menolong tanpa pamrih. Jika semua manusia mampu mengembangkan perilaku altruistik dalam dirinya, bukan tidak mungkin dunia ini akan terbebas dari segala bentuk peperangan yang justru menghancurkan peradaban manusia sendiri.


Sabtu, 03 Oktober 2009

Fakta Mengagumkan Tubuh Manusia

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan paling sempurna, baik dari segi fisik maupun kecerdasan otaknya. Kesempurnaan penciptaan fisik manusia sungguh mengagumkan. Selama ratusan tahun hingga saat ini para ilmuwan belum tuntas mempelajari seluk beluk tubuh manusia. Manusia tidak mampu membuat suatu alat pun yang mampu bekerja seefektif dan seefisien organ tubuh manusia. Berikut ini merupakan beberapa fakta mengagumkan mengenai kesempurnaan fisik manusia:

  • Otak manusia terdiri atas 1.000.000.000.000 (satu triliun) neuron atau sel syaraf yang masing-masing mempunyai kemampuan lebih tinggi daripada komputer yang paling canggih saat ini. Jika jumlah penduduk dunia saat ini sekitar 6.000.000.000 (6 milyar), maka jumlah sel otak kita sama dengan 167 kali jumlah manusia di bumi.
  • Setiap mata manusia mengandung sekitar 130 juta penerima cahaya. Tiap penerima cahaya dapat menerima paling sedikit 5 foton per detik. Mata manusia yang sehat (tidak buta warna) mampu membedakan 500 jenis warna abu-abu. Jika manusia kehilangan salah satu matanya, dia akan kehilangan 1/5 dari seluruh penglihatannya dan kehilangan seluruh persepsi tentang kedalaman. CERN Laboratory di Switzerland memperkirakan diperlukan alat senilai US$ 68.000.000 untuk membuat duplikat satu mata saja.
  • Setiap telinga manusia mengandung 24.000 serabut yang mampu mendeteksi getaran molekul udara dalam kisaran yang sangat besar dan perbedaan yang sangat samar. Kebanyakan manusia mendengar lebih baik dengan telinga kanan daripada dengan telinga kiri. 
  • Indra penciuman manusia dapat mengenali bau kimiawi suatu benda dalam satu per triliun bagian udara.
  • Untuk memberdayakan gerakan, daya gerak, dan kepekaan lingkungan tubuh, kita memiliki 206 tulang dengan arsitektur yang rumit, 500 otot yang terkoordinasi, dan sekitar 10 km serabut syaraf.
  • Jantung manusia berdenyut rata-rata 36.500.000 kali setahun dan memompa 2.700.000 liter darah melalui 90.000 km pembuluh arteri, vena, dan kapiler.
  • Paru-paru manusia memiliki 600.000.000 globulus (ruang-ruang kecil) sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Paru-paru kiri lebih kecil daripada paru-paru kanan untuk memberi tempat pada jantung.
  • Darah yang mengalir dalam tubuh manusia mengandung 22 triliun sel darah. Ada 15 juta sel darah yang mati tiap detik dan segera digantikan dengan 15 juta sel darah baru.

Jumat, 04 September 2009

Kupu-Kupu yang Lumpuh

Suatu hari seorang guru biologi di sebuah SMP berkata pada murid-muridya, “Anak-anak, mulai hari ini kita akan mempelajari metamorfosis kupu-kupu. Sampai seminggu ke depan kita akan mengamati perkembangannya sejak berbentuk ulat sampai menjadi kupu-kupu.”

Semua murid kemudian pergi ke laboratrium dan mengamati ulat yang sudah disiapkan. Setiap hari, mereka memberi makan ulat-ulat tersebut dan mencatat perkembangannya. Beberapa hari kemudian, ulat-ulat tersebut mulai bertapa menjadi kepompong dan seminggu berikutnya mulai keluar menjadi kupu-kupu.

Semua murid begitu sangat antusias mengamati kupu-kupu muda yang berusaha keluar dari badan kepompongnya. Satu per satu mereka keluar dan terbang memamerkan sayap mereka yang cantik hingga hanya tersisa satu ekor kupu-kupu yang kesulitan keluar dari kepompong. Seorang anak yang merasa kasihan berniat menolong. Dikelupasnya kulit kepompong kupu-kupu malang tersebut hingga ia dapat keluar dengan mudah. Apa yang terjadi kemudian? Kupu-kupu tadi tidak dapat terbang sebagaimana yang lainnya. Sayapnya tidak berkembang secara sempurna dan ia hanya dapat berputar-putar di tempatnya. Ternyata cairan yang dikeluarkan dari tempatnya keluar dari tubuh lamanya selama mengelupas merupakan cairan yang dapat membuat sayapnya lurus dan mengilap. Selain itu, perjuangannya keluar dari tubuh lamanya memperkuat otot-otot tubuhnya, tertutama otot-otot disekitar sayap yang digubakan untuk terbang. Ia tidak memperoleh keduanya sehingga menjadi kupu-kupu lumpuh selamanya.

***

Ada dua hikmah yang dapat kita petik dari cerita di atas. Pertama, kita tidak boleh sembarangan mencapuri urusan orang lain, sekalipun kita bermaksud memberikan bantuan atau pertolongan kepadanya. Pada cerita di atas, pertolongan yang diberikan sang anak justru mencelakakan si kupu-kupu seumur hidupnya. Kita hendaknya mengetahui duduk persoalannya secara mendalam terlebih dahulu sebelum berbuat sesuatu. Kedua, jangan suka memperoleh sesuatu tanpa berusaha terlebih dahulu. Kupu-kupu di atas memperoleh kebebasannya dari tubuh kepompong secara mudah karena dibantu orang lain. Akibatnya, otot-ototnya menjadi lemah karena belum terlatih. Akibatnya, ia tidak dapat terbang. Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan yang serba mudah akan melemahkan mental kita. Kita tidak akan terbiasa menghadapi segala persoalan hidup. Ketika semua bantuan yang biasa kita terima tidak dapat lagi diperoleh, kita akan hancur dengan cepat karena kita tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menghadapi hidup. Kekuatan yang yang kita manfaatkan selama ini merupakan kekuatan orang lain sehingga kekuatan diri kita tidak berkembang dengan baik.






Rabu, 19 Agustus 2009

Nilai Waktu

Untuk mengetahui nilai satu tahun...tanyakanlah
kepada murid yang gagal dalam ujian akhir

Untuk mengetahui nilai satu bulan...tanyakanlah
kepada ibu yang bayinya lahir prematur

Untuk mengetahui nilai satu minggu...tanyakanlah
kepada editor majalah berita mingguan

Untuk mengetahui nilai satu hari...tanyakanlah
kepada buruh harian yang mempunyai enam orang anak

Untuk mengetahui nilai satu jam...tanyakanlah
kepada gadis yang sedang menantikan kekasih pujaannya

Untuk mengetahui nilai satu menit...tanyakanlah
kepada suami yang menantikan kelahiran anak pertamanya

Untuk mengetahui nilai satu detik...tanyakanlah
kepada peraih medali perak olimpiade lari atau renang

Untuk mengetahui nilai satu milidetik...tanyakanlah
kepada pembalap motor atau mobil yang start dari posisi kedua