Sabtu, 01 Oktober 2016
Minggu, 24 Juli 2016
Tak Putus Dirundung Longsor : Faktor Ekonomi Yang Luput dalam Mitigasi Bencana Longsor Purworejo
Bencana
alam melanda sejumlah desa di Kabupaten Purworejo pada Sabtu, 18 April 2016. Hujan
yang mengguyur sangat deras sejak siang hari menimbulkan bencana tanah longsor
dan banjir di berbagai tempat. Sekitar 43 orang dinyatakan tewas/hilang,
beberapa korban luka, puluhan rumah rusak atau hancur, dan kerugian puluhan
miliar rupiah.
![]() |
| Gambar 1. Longsor di Desa Donorati |
Longsor
terjadi di beberapa desa, antara lain di Desa Pacekelan, Sidomulyo, Donorati
(ketiganya di Kecamatan Purworejo), Jelok (Kaligesing), dan Krangrejo (Loano). Pada
kesempatatan kali ini, saya hanya akan membahas longsor di Donorati dan
Karangrejo, karena merupakan kampung halaman saya dan masih di jalur perbukitan
yang sama. Ada 4 titik longsor besar di sepanjang jalur Purworejo – Caok –
Donorati – Sudimoro. Kriteria “besar” versi saya disini adalah tanah longsor
setidaknya sampai menutupi jalan dan memutus akses transportasi. Masih ada
beberapa titik longsor kecil yang tidak sampai merusak jalan atau menimbulkan
kerugian lain selain tanah dan pohon-pohon yang hanyut terbawa longsor. Adapun
rincian titik-titik longsor besar adalah
sebagai berikut:
1. Dusun Caok Kulon, Desa Karangrejo,
Kecamatan Loano
Lokasi GPS : @-7.689386,110.046662
Korban Jiwa : 17 orang ditemukan meninggal dan 1 orang luka-luka.
Kerugian : 4 rumah tertimbun, 1 buah truk dan 13 motor tertimbun.
Kronologi : Selepas magrib, terdapat longsoran
kecil yang menutupi sebagian badan jalan. Sebuah truk yang hendak melintas
tertahan material longsor sehingga sopir dan kernet berinisiatif membersihkan
material longsor. Sementara itu, beberapa pemotor, yang pada umumnya sedang
pulang kerja, terpaksa berhenti di belakang truk karena jalan terhalang truk
dan material longsor. Sebagian besar ikut membantu membersihkan material
longsor. Tiba-tiba longsor yang jauh lebih besar menghantam mereka beserta truk
dan motornya. Korban longsor di sini bukan hanya penduduk setempat, tetapi juga
dari desa-desa lain seperti Donorati, Tlogorejo, Sudimoro, dan Remun.
![]() |
| Gambar 2. Lokasi Caok Kulon Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View) |
![]() | |
|
![]() | |
|
![]() |
| Gambar 5. Lokasi Caok Kulon Sesudah Longsor |
Minggu, 10 Juli 2016
Surat Terbuka untuk BPJS Kesehatan : Mengapa Orang Miskin (masih) Dilarang Sakit?
Kepada Yth:
1. Jajaran Direksi BPJS Kesehatan
Republik Indonesia
2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia
3. Segenap Pimpinan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia beserta para anggota,
khususnya Komisi IX (Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan)
khususnya Komisi IX (Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan)
4. Presiden Republik Indonesia
Bapak/Ibu yang terhormat. Pada saat peluncuran
program BPJS Kesehatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saat itu) mengatakan
bahwa tujuan utama program ini adalah agar tidak ada lagi orang miskin yang
ditolak atau diusir dari rumah sakit karena ketiadaan biaya. Akan tetapi, dalam
praktiknya saat ini tujuan mulia tersebut belum terlaksana. Penolakan dan
pengusiran rumah sakit kepada pasien miskin masih sering menghiasi headline media massa kita. Salah seorang
rekan kami, peserta BPJS Kesehatan, pun mengalami hal yang demikian, bahkan
hingga ajal menjemputnya. Perkenankanlah kami paparkan lika-liku lengkapnya
sebagai berikut.
---****---
Sejak akhir Maret 2016, salah seorang rekan
kerja kami yang berinisial AS sering mengeluh kurang enak badan, kepala pusing,
dan mudah capek. Karena dikira hanya masuk angin biasa, pengobatan hanya
dilakukan dengan kerokan dan minum obat warung. Pada tanggal 11 sampai 14 April
2016, mulai timbul gejala – gejala, seperti nyeri kepala hebat, tangan dan kaki
terasa lemas, penglihatan ganda, wajah sebelah kiri mati rasa, dan bentuk wajah
tidak simetris. AS masih masuk kerja sampai tanggal 14 April 2016 karena (sekali
lagi) masih menganggap penyakit biasa. Atas bujukan rekan-rekan kerja, pada
tanggal 14 April 2016, AS memeriksakan diri ke poliklinik pabrik. Diagnosis
awal dari dokter poliklinik adalah stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA).
Jumat, 15 April 2016, AS memeriksakan diri ke
Ciputra Hospital, Citra Raya, Tangerang diantar oleh istrinya menggunakan
sepeda motor. Ia menggunakan fasilitas asuransi kesehatan yang diberikan oleh
perusahaan. Sayangnya, benefit asuransi untuk rawat jalannya sudah habis. Padahal
harus dilakukan CT Scan untuk diagnosis detail penyakitnya yang memerlukan
biaya cukup mahal. Ia pun pulang ke rumah tanpa mendapatkan penanganan.
Sabtu, 16 April 2016, AS meminta bantuan salah
seorang rekan kami yang memiliki mobil untuk mengantarkan ke RS Siloam Karawaci
Tangerang karena sakit kepala semakin tak tertahankan dan tidak kuat kalau naik
motor. Atas usaha berbagai pihak, AS dirawat inap di RS Siloam dan hasil
diagnosis lanjutan disimpulkan ada tumor di belakang hidungnya. Pada 19 April
2016 dilakukan operasi pengambilan sampel untuk mengetahui tingkat keganasannya
dan diperoleh kesimpulan bahwa terdapat kanker ganas di belakang hidungnya.
Sayang seribu sayang, benefit rawat inap asuransinya pun sudah habis karena
pada awal Februari 2016, ia sempat sakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan
dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Dengan sangat terpaksa, keluarga
membawanya pulang karena tidak mampu membayar sendiri biaya rumah sakit. AS
kemudian beralih menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat.
Minggu, 12 Juni 2016
Tips Menjadi Bahagia ala Orang Korea
Dalam postingan sebelumnya,
saya menulis mengenai faktor-faktor pendukung kemajuan Korea Selatan. Salah satu
faktor tersebut adalah etos kerja yang sangat tinggi. Selain membawa dampak
positif terhadap kemajuan bangsanya, ternyata juga membawa dampak negatif,
yakni yakni tingkat stress yang tinggi dan indeks kebahagiaan yang rendah. Pada
tahun 2016 ini, Korea Selatan hanya menempati posisi ke-58 Indeks Kebahagiaan
Dunia dengan 5.835 poin, tidak terlalu jauh dengan Indonesia yang ada
diperingkat ke-79 (5.314 poin), tapi terpaut cukup jauh dengan Denmark yang ada
di posisi pertama (7.526 poin).
Pemerintah dan masyarakat
Korea Selatan nampaknya menyadari masalah tersebut. Kampanye-kampanye untuk meningkatkan
indeks kebahagiaan mulai digalakkan, terutama di perusahaan, pabrik, dan
perkantoran, dengan membatasi jam kerja lembur dan melarang karyawan untuk
lembur sama sekali pada hari-hari tertentu. Pada hari dimana karyawan wajib
pulang tepat waktu, biasanya seminggu sekali pada Hari Rabu, diharapkan mereka
mengisi waktunya dengan melakukan hobi yang disenanginya atau berkumpul dengan
keluarga tercinta. Oleh karena itu, hari khusus tersebut biasa disebut sebagai
Hobby Day atau Family Day.
Tips-tips untuk membuat diri sendiri
bahagia juga diselipkan dalam materi pelatihan (training), workshop, dan
seminar. Saya pernah menerima materi tips menjadi bahagia (the way to make yourself be happy) saat mengikuti suatu
workshop. Tips ini saya peroleh dari Mr. Sungkeun Seo, salah seorang eksekutif
LG Corp. Gambar-gambar ilustrasi saya ambil dari materi presentasi beliau.
Senin, 18 April 2016
Belajar dari Kesuksesan Korea Selatan : Strategi Pembangunan yang Jitu dan Mentalitas yang Maju
Ada satu tema yang menggelitik
(dan memalukan) saat berbincang-bincang dengan orang Korea (Selatan), yakni
hari proklamasi kemerdekaan. Tahukah Anda kalau proklamasi kemerdekaan
Indonesia dan Korea hanya selisih dua hari saja? Proklamasi kemerdekaan Korea
adalah tanggal 15 Agustus 1945 sedangkan Indonesia 17 Agustus 1945. Satu lagi
faktanya, Korea dan Indonesia sama-sama memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Jepang. Akan tetapi, kalau kita
bandingkan kondisi Indonesia dan Korea saat ini bagaikan bumi dan langit. Korea
dengan segala kemajuannya berhasil menjadi negara sangat berpengaruh di dunia
di berbagi bidang. Di bidang politik internasional, sekretaris jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa saat ini
dijabat oleh Ban Ki-Moon yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri Korea
Selatan. Di bidang ekonomi, Korea Selatan merupakan salah sat negara anggota
G20 dan produk domestic bruto (GDP)-nya adalah yang terbesar ke-11 di dunia. Di
bidang budaya, K-Pop dan K-Drama menyebar secara luas ke seluruh dunia, sebuah
fenomena yang disebut sebagai Korean
Wave. Di bidang teknologi pun sangat mentereng. Samsung adalah produsen
smartphone terbesar di dunia saat ini. Korea Selatan juga merupakan negara
dengan kecepatan internet tercepat di dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Kita
masih disibukkan dengan konflik
horizontal dan kegaduhan politik yang tidak pernah ada
juntrungnya.
![]() |
| Bendera Korea Selatan |
Pada awal-awal masa kemerdekaan,
Korea dan Indonesia menghadapi masalah yang sama, yakni kemiskinan dan berbagai macam pemberontakan. Bahkan,
Korea terpisah menjadi 2 pada tahun 1948 menjadi Republic of Korea (South Korea) dan Democratic People’s Republic of Korea (North Korea). Indonesia
beruntung tidak sampai terpecah belah walaupun mengalami berbagai macam pemberontakan.
Penduduk Korea bahkan banyak
yang mengalami kelaparan saat itu. Indonesia pun menghadapi problem kemiskinan
yang rumit setelah dijajah selama ratusan tahun. Ada satu perbedaan mencolok antara Korea dan
Indonesia, yakni Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam sedangkan Korea
hampir tidak punya. Akan tetapi,
bangsa Korea tidak mudah menyerah oleh kondisi alam dan geografis yang tidak
menguntungkan. Mereka berusaha memaksimalkan sumber daya yang terbatas hingga
berhasil menjadi negara maju seperti saat ini.
Labels:
Busan,
Changwon,
Cinta produk dalam negeri,
Disiplin,
Etos kerja tinggi,
Hangul,
Hyundai,
Korea Selatan,
LG,
Nasionalisme tinggi,
negara maju,
Samsung,
Seoul
Minggu, 27 Maret 2016
Stop Eksploitasi Anak! Heal The World We Live In, Save It For Our Children
Beberapa hari terakhir ini, media massa
nasional kembali mengangkat berita mengenai eksploitasi anak. Hal itu terjadi
setelah pada Hari Kamis (24/3/2016) Polres Jakarta Selatan menangkap 4 orang
pelaku eksploitasi anak di sekitar Blok M. Para pelaku menyewakan anak untuk
dipaksa mengemis, mengamen, atau menjadi joki 3 in 1. Jika menolak, mereka akan
dipukul atau ditampar. Salah satu korban eksploitasi bahkan bayi berusia 6
bulan. Bayi tersebut dibawa mengemis agar orang-orang yang melihatnya merasa iba
dan memberi banyak uang. Bayi akan diberi obat penenang agar tidak rewel saat
diajak mengemis.
Beragam reaksi masyarakat atas muncul atas
berita penangkapan pelaku eksploitasi anak tersebut, terutama para netizen.
Umumnya mereka bersyukur atas penangkapan tersebut, tetapi juga menyayangkan
mengapa baru sekarang dilakukan. Kasus eksploitasi anak untuk tujuan ekonomi
seperti itu memang bukan hal baru. Hampir di semua kota besar di Indonesia
dapat kita temui ibu-ibu mengemis dengan mengendong anak kecil yang tidak
pernah menangis atau anak-anak mengamen dengan menyodorkan amplop kecil bertuliskan
permintaan belas kasihan untuk biaya hidup dan sekolah. Tempat bereka
beroperasi biasanya di bis kota, terminal, halte, stasiun, dan perempatan jalan
yang ramai.
Sebagai orang yang tinggal di kota besar,
tepatnya Serpong, Tangerang Selatan, saya pun sering menyaksikan pemandangan di
atas. Akan tetapi, baru sekali ini memergoki “pengasuh”nya. Dua hari sebelum
kasus ini ramai diberitakan, Selasa (22/3/2016) sekitar pukul 06.20 saya
menyaksikan langsung praktik eksploitasi anak di perempatan German Center, BSD.
Seperti biasa, saya menunggu bus
jemputan kantor di halte sebelah Lapangan Sunburst. Di sebelah saya ada seorang
ibu paruh baya. Awalnya saya mengira ibu tersebut sedang menunggu bus atau
angkot. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 ~ 5 tahun
menghampiri dan memanggilnya “Mami” sambil menyerahkan segepok amplop. Si anak
berkata dengan nada takut bahwa ia baru dapat sedikit. Saya tidak ingat persis
kata-kata si anak karena sangat terkejut. Si ibu menggumamkan sesuatu sambil
memasukkan amplop-amplop ke dalam tas cokelat yang dibawanya kemudian mengambil
segepok amplop yang lain. Sejurus kemudian ia menyerahkan amplop-amplop yang
baru tersebut ke si anak. Si anak langsung kembali ke perempatan menyelip di
antara mobil-mobil yang sedang berhenti di lampu merah. Saat itu, saya sudah
sadar dari keterkejutan dan menyadari bahwa peristiwa barusan adalah salah satu
bentuk eksploitasi anak. Saya sempatkan untuk memotret si anak walau sudah
menjauh. Si ibu juga berhasil saya ambil gambarnya. Dengan diam-diam tentunya.
Tak lama kemudian bus jemputan datang. Ketika saya sudah duduk di dalam bis,
saya sempatkan untuk menengok si ibu. Saya terkejut untuk kedua kalinya. Di
samping si ibu duduk ada seorang anak perempuan sedang tertidur lelap di bangku
halte. Pakaian dan tubuhnya tampak kotor. Sayang, saya tidak sempat memotretnya
karena bus keburu jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)





