Minggu, 13 Maret 2016

Fenomena Maraknya Sharing Berita Hoax : Dari Malas Berpikir Sampai Fanatik Buta

Media sosial (medsos) berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Saat ini, fungsi tidak hanya sebagai ajang pertemanan saja, tetapi juga sebagai media berbagi informasi (sharing), ajang promosi bisnis, sampai kampanye politik. Sayang, tidak semua kegiatan di atas beraroma positif. Saat musim kampanye legislatif, presiden, gubernur, bupati, atau walikota, pendukung calon-calon yang bertarung banyak memanfaatkan medsos  untuk saling menyerang dan menjatuhkan lawan, bahkan cenderung kepada kampanye hitam (black campaign). Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah dengan membagi (share) berita, artikel, atau status yang menguntungkan pihaknya dan menyerang pihak lawan. Sialnya, apa yang mereka sebar dan bagikan banyak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat Indonesia memang sangat mudah tenggelam dalam euforia terhadap sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Saat menjelang pemilu, hampir semua orang akan tenggelam dalam hingar bingar kampanye. Ketika piala dunia sedang berlangsung, sepak bola akan menjadi topik yang dibahas oleh berbagai kalangan. Begitu pula ketika ada gejolak atau fenomena tertentu di masyarakat. Berkat medsos, kejadian kecil pun bisa booming hingga seluruh pelosok negeri. Berawal dari hingar bingar semacam inilah para pengguna medsos mulai rajin untuk berbagi informasi mengenai topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Lama-kelamaan, beberapa orang pun berusaha untuk “menciptakan” trending topic sendiri. Apapun yang menurutnya menarik, akan dibagikan di akun medsos miliknya tanpa dicek terlebih dahulu kebenaran informasinya.


Tentu Anda sekalian betapa hebohnya kasus beras plastik beberapa waktu lalu. Hanya karena ada seseorang yang mengaku memasak beras yang katanya mengandung plastik dan ada yang mengunggahnya ke medsos, topik ini jadi viral dan menghebohkan. Banyak pengguna medsos membagikan berita tersebut dengan disertai beragam komentar. Sebagian berkomentar untuk berhati-hati saat membeli beras, tapi ada juga sebagian kalangan yang berkomentar pedas sampai mengecam pihak-pihak tertentu bahkan pemerintah. Yang memprihatinkan adalah sebagian dari mereka merupakan orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku intelek. Padahal informasi tersebut belum terkonfirmasi kebenarannya dan secara logika pun tidak masuk akal. Bagaimana bisa plastik yang bersifat hidrofobik (antiair) bisa dimasak dan menjadi bubur? Pada akhirnya pihak yang berkompeten pun memberi klarifikasi bahwa beras tersebut tidak mengandung plastik. Akan tetapi, informasi tidak benar yang sudah terlanjur dan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Ada berapa sebab mengapa banyak pengguna medsos begitu mudah membagikan sesuatu yang belum terbukti kebenarannya.

1.  Malas berpikir

Mudahnya memperoleh informasi via internet membawa dampak negatif bagi kita. Ketika membutuhkan informasi, tinggal ketik di mesin pencari dan informasi yang kita cari pun kita peroleh dengan mudahnya. Diakui atau tidak, situasi tersebut membuat kita cenderung malas untuk berpikir. Informasi yang kita peroleh kadang langsung ditelan mentah-mentah tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Padahal informasi palsu (hoax) banyak sekali beredar di internet. Kehebohan rumor beras plastik merupakan salah satu contoh kemalasan kita untuk berpikir.

Contoh lain yang belakangan beredar adalah berita mengenai air putih yang dimasak ulang bisa mengandung racun. Dikatakan bahwa air yang dimasak ulang akan menghasilkan racun seperti arsenik, fluoride, dan nitrat. Banyak sekali yang percaya begitu saja informasi ini dan menyebarluaskan melalui medsos. Kalau kita mau berpikir sedikit, dari mana zat tersebut kalau sebelumnya tidak ada? Sungguh aneh banyak orang yang berpendidikan tinggi dengan mudahnya percaya pada informasi seperti ini. Sebabnya? Apalagi kalau bukan malas berpikir.

Masih banyak berita palsu lain yang dipercaya dan disebarluaskan pengguna medsos karena malas berpikir. Beberapa diantaranya seperti tanaman dolar dapat menyebabkan leukemia, bahaya sinar kosmik yang melewati bumi di malam hari, makan mie instan bikin usus lengket dan bocor, sesuap lele mengandung 3000 sel kanker, dan masih banyak lagi. Semua informasi tersebut jauh dari fakta ilmiah. Sudah banyak klarifikasi dari pihak yang berkompeten.

2.  Fanatik buta & kebencian yang berlebihan

Pesta demokrasi di negeri kita tidak hanya jadi ajang obral janji, tetapi juga perang fitnah. Masing-masing pendukung calon saling serang di medsos dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan membuat artikel palsu atau memanipulasi berita. Mereka tidak akan segan untuk membagikan berita yang mendukung kubu mereka dan menyudutkan kubu lawan meskipun itu berita palsu. Contohnya tidak terhitung, karena meskipun pemilu sudah lama berlalu, sampai saat ini masih banyak barisan pendukung yang berperang opini di medsos dan tak jarang data-data palsu digunakan untuk menyerang kubu yang berseberangan.

3.  Konflik SARA

Isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) merupakan isu yang super sensitif. Tak jarang isu SARA digunakan oleh oknum tertentu untuk menimbulkan konflik di masyarakat. Ketika konflik terjadi, pihak-pihak yang bertikai pun banyak menggunakan medsos untuk menyebarkan propagandanya. Jika seseorang merasa menjadi bagian dari salah satu pihak yang bertikai, semua informasi yang mendukung pihaknya akan disebarkan meskipun belum terkonfirmasi kesahihannya. Isu SARA yang paling ramai dibicarakan dalam satu tahun terakhir adalah pengungsi Rohingya dan kasus penyerangan di Tolikara. Saat berkembang isu pengungsi Rohingya, banyak beredar foto-foto yang diklaim sebagai bukti perlakuan kejam yang diterima suku Rohingya, padahal diambil dari belahan dunia lain seperti korban ledakan gas di Nigeria dan korban gempa Nepal.


4.  Panic moment

Dibandingkan dengan alasan-alasan sebelumnya, alasan ini paling bisa diterima dengan akal sehat. Pada kondisi darurat dan panik, orang cenderung menonjolkan emosi dibandingkan akalnya. Hal dapat kita saksikan saat terjadi kasus bom Thamrin beberapa waktu lalu. Beredar informasi palsu mengenai lokasi ledakan yang katanya menyebar sampai ke Palmerah dan  Alam Sutera, Tangerang. Informasi dengan cepat menyebar karena hampir semua orang yang menerima akan segera meneruskan dan membagikannya tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu, baik melalui medsos maupun broadcast message.

Saya menulis artikel ini bukan berarti saya tidak pernah membagikan berita palsu, tetapi justru karena saya menyadari beberapa kali melakukannya. Oleh karena itu, saya menghimbau pada pembaca untuk selalu mengecek dan menelaah kebenaran informasi yang kita terima terlebih dahulu sebelum meneruskan dan membagikannya. Jangan sampai informasi yang kita bagikan justru menimbulkan keresahan dan fitnah. Sebarkanlah informasi yang positif dan konstruktif terhadap kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar