Minggu, 24 Juli 2016

Tak Putus Dirundung Longsor : Faktor Ekonomi Yang Luput dalam Mitigasi Bencana Longsor Purworejo

Bencana alam melanda sejumlah desa di Kabupaten Purworejo pada Sabtu, 18 April 2016. Hujan yang mengguyur sangat deras sejak siang hari menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir di berbagai tempat. Sekitar 43 orang dinyatakan tewas/hilang, beberapa korban luka, puluhan rumah rusak atau hancur, dan kerugian puluhan miliar rupiah.

Gambar 1. Longsor di Desa Donorati
Longsor terjadi di beberapa desa, antara lain di Desa Pacekelan, Sidomulyo, Donorati (ketiganya di Kecamatan Purworejo), Jelok (Kaligesing), dan Krangrejo (Loano). Pada kesempatatan kali ini, saya hanya akan membahas longsor di Donorati dan Karangrejo, karena merupakan kampung halaman saya dan masih di jalur perbukitan yang sama. Ada 4 titik longsor besar di sepanjang jalur Purworejo – Caok – Donorati – Sudimoro. Kriteria “besar” versi saya disini adalah tanah longsor setidaknya sampai menutupi jalan dan memutus akses transportasi. Masih ada beberapa titik longsor kecil yang tidak sampai merusak jalan atau menimbulkan kerugian lain selain tanah dan pohon-pohon yang hanyut terbawa longsor. Adapun rincian  titik-titik longsor besar adalah sebagai berikut:

1.    Dusun Caok Kulon, Desa Karangrejo, Kecamatan Loano
Lokasi GPS    : @-7.689386,110.046662
Korban Jiwa        : 17 orang ditemukan meninggal dan 1 orang luka-luka.
Kerugian        : 4 rumah tertimbun, 1 buah truk dan 13 motor tertimbun.
Kronologi       : Selepas magrib, terdapat longsoran kecil yang menutupi sebagian badan jalan. Sebuah truk yang hendak melintas tertahan material longsor sehingga sopir dan kernet berinisiatif membersihkan material longsor. Sementara itu, beberapa pemotor, yang pada umumnya sedang pulang kerja, terpaksa berhenti di belakang truk karena jalan terhalang truk dan material longsor. Sebagian besar ikut membantu membersihkan material longsor. Tiba-tiba longsor yang jauh lebih besar menghantam mereka beserta truk dan motornya. Korban longsor di sini bukan hanya penduduk setempat, tetapi juga dari desa-desa lain seperti Donorati, Tlogorejo, Sudimoro, dan Remun.
Gambar 2. Lokasi Caok Kulon Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)
Gambar 3. Lokasi Caok Kulon Sesudah Longsor 
Gambar 4. Lokasi Caok Kulon Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 5. Lokasi Caok Kulon Sesudah Longsor 


2.    Perbatasan Dusun Caok Wetan (Desa Karangrejo, Kecamatan Loano) dengan Dusun Panggulan (Desa Donorati, Kecamatan Purworejo)
Lokasi GPS : @-7.6892567,110.0556174
Korban Jiwa  : -
Kerugian        : tugu batas desa yang baru dibangun hilang
Kronologi       : Longsor terjadi sekitar pukul 19.00 dan menghanyutkan tugu batas Desa Donorati dan Desa Karangrejo yang sedang dibangun. Tidak ada rumah yang rusak maupun korban jiwa di titik ini.

Gambar 6. Lokasi Perbatasan Desa Donorati - Karangrejo Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)
Gambar 7. Lokasi Perbatasan Desa Donorati - Karangrejo Sesudah Longsor

3.    Perbatasan Dusun Panggulan dengan Dusun Donorati (Desa Donorati, Kecamatan Purworejo)
Lokasi GPS : @-7.6913152,110.0609353
Korban Jiwa  : -
Kerugian        : 4 rumah tertimbun dan 2 rumah rusak berat
Kronologi       : Banjir lumpur mulai memasuki rumah-rumah penduduk sekitar pukul 18.30. Penduduk yang rumahnya terkena banjir lumpur langsung berinisiatif mengungsi ke balai desa setempat tanpa sempat menyelamatkan barang berharganya. Longsor besar terjadi sekitar pukul 19.00 menimbun 4 rumah dan menghancurkan 2 lainnya, tetapi tidak sampai menimbukan korban jiwa.
Gambar 8. Lokasi Perbatasan Dusun Panggulan - Donorati Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 9. Lokasi Perbatasan Dusun Panggulan - Donorati Sesudah Longsor
Gambar 10. Lokasi Perbatasan Dusun Panggulan - Donorati Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 11. Lokasi Perbatasan Dusun Panggulan - Donorati Sesudah Longsor
Gambar 12. Rumah Bapak Kemat Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 13. Rumah Bapak Kemat Sesudah Longsor 

4.    Dusun Donorati, Desa Donorati, Kecamatan Purworejo
Lokasi GPS : @-7.6946661,110.0644372
Korban Jiwa  : 12 orang ditemukan meninggal, 2 orang tidak ditemukan, dan 2 orang luka-luka.
Kerugian        : 6 rumah tertimbun dan 3 rumah rusak berat
Kronologi       : Titik longsor yang satu ini adalah yang paling tidak diduga sebelumnya. Rumah-rumah penduduk berada di sebelah utara sungai sedangkan lereng terjal berada di sebelah selatan sungai. Jarak rumah terdekat dengan sungai sekitar 50 meter. Secara logika awam, jika longsor terjadi pada tebing sebelah selatan sungai, material longsor akan jatuh ke sungai di kaki lereng dan hanyut bersama arus sungai. Tetapi logika manusia tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Berton-ton material longsor jatuh ke bawah dan muncrat ke arah yang berlawanan sehingga menghancurkan rumah-rumah dan mengubur seluruh penghuninya. Kronologi ini diperoleh dari fakta posisi ditemukannya korban terlempar jauh ke arah utara dibandingkan posisi rumahnya. Selain itu, pohon-pohon yang sebelumnya tumbuh di tepi sungai ditemukan terlempar jauh ke arah utara (arah rumah penduduk). Peristiwa yang terjadi selepas magrib menimbulkan banyak korban jiwa karena sebagian besar orang sedang berkumpul di rumah menikmati buka puasa.
Gambar 14. Lokasi Desa Donorati Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)

Gambar 15. Lokasi Desa Donorati Sesudah Longsor 
 
Gambar 16. Lokasi Desa Donorati Sebelum Longsor (Courtesy: Google Street View)


Gambar 17. Lokasi Desa Donorati Sesudah Longsor 
Longsor di Dusun Caok Kulon, Desa Karangrejo, Kecamatan Loano memang mengejutkan karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, di Desa Donorati longsor bukanlah peristiwa langka. Hampir setiap lima tahun sekali terjadi longsor yang cukup besar meskipun selama ini tidak pernah menimbulkan korban jiwa maupun merusak rumah penduduk. Pada tahun 1996 longsor sempat mengancurkan bangunan SDN Donorati sehingga kami harus bersekolah di sekolah darurat. Untungnya peristiwa tersebut terjadi pada malam hari sehingga tidak ada korban jiwa. Peristiwa longsor yang menimbulkan korban jiwa terjadi pada sekitar tahun 1983 atau 1984 (berdasarkan cerita orang tua). Saat itu, seorang penduduk hanyut terbawa longsor di lokasi no. 2 di atas.

Gambar 18. Bekas Rumah-Rumah yang Tertimbun di Desa Donorati Sesudah Longsor 

Peristiwa-peristiwa longsor sebelumnya selalu terjadi pada puncak musim penghujan, antara Bulan November sampai Februari. Namun, longsor kali ini terjadi pada Bulan Juni yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Hal tersebut terjadi akibat fenomena cuaca La Nina yang sudah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya. Fenomena La Nina diprediksi berlangsung hingga Bulan September 2016. Curah hujan yang tinggi di waktu yang tidak biasanya membuat penduduk harus ekstra waspada. Setelah longsor terjadi, penduduk selalu merasa was-was jika hujan deras terjadi. Sebagian dari mereka pun mengungsi ke tempat aman.

Desa Donorati memang salah satu desa yang dikategorikan rawan longsor di Kabupaten Purworejo karena kontur tanah yang miring dan jenis tanah yang gembur. Selain itu, kondisi lahan yang gundul juga memperbesar faktor penyebab longsor. Banyak pohon-pohon besar yang sudah ditebang karena tuntutan kebutuhan hidup. Sebagian besar penduduk desa yang hanya bermata pencaharian sebagai buruh, pedagang, dan petani kecil menjadikan hewan ternak (umumnya kambing) dan tanaman keras sebagai dana cadangan saat ada kebutuhan mendesak. Menjelang lebaran dan kenaikan kelas anak sekolah seperti Bulan Juli lalu, kebutuhan rumah tangga penduduk pun otomatis meningkat. Alhasil, banyak pohon yang dijual dan ditebang untuk memenuhinya.

Faktor ekonomi penduduk inilah yang sering luput diperhatikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo saat melaksanakan mitigasi bencana. Mitigasi bencana yang dilakukan hanyalah sosialisasi, simulasi, dan pemasangan rambu-rambu. Wacana relokasi yang dilontarkan oleh BPBD juga ditanggapi dingin oleh masyarakat. Sebagian besar masyarakat memilih bertahan tinggal di tempatnya sekarang daripada harus direlokasi. Pilihan yang bisa dimaklumi mengingat mata pencaharian mereka yang terikat dengan lahan yang mereka miliki, seperti petani dan penderes aren.

Beberapa kali Pemerintah Kabupaten Purworejo mengeluhkan penebangan hutan sebagai penyebab longsor. Akan tetapi, tidak ada langkah konkrit yang dilakukan selain sosialisasi dan pemasangan rambu rawan bencana. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sudah selayaknya menjadi titik fokus Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk mengurangi resiko bencana tanah longsor di daerah-daerah rawan. Sasaran pemberdayaan ekonomi yang paling tepat adalah kaum ibu yang sebagian besar hanya sebagai ibu rumah tangga. Mereka bisa diajarkan beragam keterampilan agar produktif secara ekonomi. Keterampilan yang diajarkan haruslah dengan bahan-bahan yang mudah didapat di desa. Contohnya adalah kerajinan dari bambu atau pengolahan kimpul (sejenis talas) menjadi makanan bernilai ekonomis tinggi, seperti kripik, kue, dan lapis. Pendistribusian dan pemasaran hasil kerajinan juga harus diajarkan agar roda perekonomian terus berputar.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat akan lebih efektif untuk mengurangi penggundulan hutan daripada sekedar sosialisasi dan pemberian bibit pohon. Jika masyarakat punya penghasilan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak, menggelar hajatan, dan punya tabungan untuk kebutuhan mendadak, menebang pohon akan dijadikan solusi terakhir untuk memenuhi kebutuhan mereka.  



Minggu, 10 Juli 2016

Surat Terbuka untuk BPJS Kesehatan : Mengapa Orang Miskin (masih) Dilarang Sakit?

Kepada Yth:
1. Jajaran Direksi BPJS Kesehatan Republik Indonesia
2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia
3. Segenap Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia beserta para anggota,
 khususnya Komisi IX (Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan)
4. Presiden Republik Indonesia

Bapak/Ibu yang terhormat. Pada saat peluncuran program BPJS Kesehatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saat itu) mengatakan bahwa tujuan utama program ini adalah agar tidak ada lagi orang miskin yang ditolak atau diusir dari rumah sakit karena ketiadaan biaya. Akan tetapi, dalam praktiknya saat ini tujuan mulia tersebut belum terlaksana. Penolakan dan pengusiran rumah sakit kepada pasien miskin masih sering menghiasi headline media massa kita. Salah seorang rekan kami, peserta BPJS Kesehatan, pun mengalami hal yang demikian, bahkan hingga ajal menjemputnya. Perkenankanlah kami paparkan lika-liku lengkapnya sebagai berikut.

---****---

Sejak akhir Maret 2016, salah seorang rekan kerja kami yang berinisial AS sering mengeluh kurang enak badan, kepala pusing, dan mudah capek. Karena dikira hanya masuk angin biasa, pengobatan hanya dilakukan dengan kerokan dan minum obat warung. Pada tanggal 11 sampai 14 April 2016, mulai timbul gejala – gejala, seperti nyeri kepala hebat, tangan dan kaki terasa lemas, penglihatan ganda, wajah sebelah kiri mati rasa, dan bentuk wajah tidak simetris. AS masih masuk kerja sampai tanggal 14 April 2016 karena (sekali lagi) masih menganggap penyakit biasa. Atas bujukan rekan-rekan kerja, pada tanggal 14 April 2016, AS memeriksakan diri ke poliklinik pabrik. Diagnosis awal dari dokter poliklinik adalah stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA).

Jumat, 15 April 2016, AS memeriksakan diri ke Ciputra Hospital, Citra Raya, Tangerang diantar oleh istrinya menggunakan sepeda motor. Ia menggunakan fasilitas asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan. Sayangnya, benefit asuransi untuk rawat jalannya sudah habis. Padahal harus dilakukan CT Scan untuk diagnosis detail penyakitnya yang memerlukan biaya cukup mahal. Ia pun pulang ke rumah tanpa mendapatkan penanganan.

Sabtu, 16 April 2016, AS meminta bantuan salah seorang rekan kami yang memiliki mobil untuk mengantarkan ke RS Siloam Karawaci Tangerang karena sakit kepala semakin tak tertahankan dan tidak kuat kalau naik motor. Atas usaha berbagai pihak, AS dirawat inap di RS Siloam dan hasil diagnosis lanjutan disimpulkan ada tumor di belakang hidungnya. Pada 19 April 2016 dilakukan operasi pengambilan sampel untuk mengetahui tingkat keganasannya dan diperoleh kesimpulan bahwa terdapat kanker ganas di belakang hidungnya. Sayang seribu sayang, benefit rawat inap asuransinya pun sudah habis karena pada awal Februari 2016, ia sempat sakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Dengan sangat terpaksa, keluarga membawanya pulang karena tidak mampu membayar sendiri biaya rumah sakit. AS kemudian beralih menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat.

Minggu, 12 Juni 2016

Tips Menjadi Bahagia ala Orang Korea

Dalam postingan sebelumnya, saya menulis mengenai faktor-faktor pendukung kemajuan Korea Selatan. Salah satu faktor tersebut adalah etos kerja yang sangat tinggi. Selain membawa dampak positif terhadap kemajuan bangsanya, ternyata juga membawa dampak negatif, yakni yakni tingkat stress yang tinggi dan indeks kebahagiaan yang rendah. Pada tahun 2016 ini, Korea Selatan hanya menempati posisi ke-58 Indeks Kebahagiaan Dunia dengan 5.835 poin, tidak terlalu jauh dengan Indonesia yang ada diperingkat ke-79 (5.314 poin), tapi terpaut cukup jauh dengan Denmark yang ada di posisi pertama (7.526 poin).

Pemerintah dan masyarakat Korea Selatan nampaknya menyadari masalah tersebut. Kampanye-kampanye untuk meningkatkan indeks kebahagiaan mulai digalakkan, terutama di perusahaan, pabrik, dan perkantoran, dengan membatasi jam kerja lembur dan melarang karyawan untuk lembur sama sekali pada hari-hari tertentu. Pada hari dimana karyawan wajib pulang tepat waktu, biasanya seminggu sekali pada Hari Rabu, diharapkan mereka mengisi waktunya dengan melakukan hobi yang disenanginya atau berkumpul dengan keluarga tercinta. Oleh karena itu, hari khusus tersebut biasa disebut sebagai Hobby Day atau Family Day.

Tips-tips untuk membuat diri sendiri bahagia juga diselipkan dalam materi pelatihan (training), workshop, dan seminar. Saya pernah menerima materi tips menjadi bahagia (the way to make yourself be happy) saat mengikuti suatu workshop. Tips ini saya peroleh dari Mr. Sungkeun Seo, salah seorang eksekutif LG Corp. Gambar-gambar ilustrasi saya ambil dari materi presentasi beliau.

Senin, 18 April 2016

Belajar dari Kesuksesan Korea Selatan : Strategi Pembangunan yang Jitu dan Mentalitas yang Maju

Ada satu tema yang menggelitik (dan memalukan) saat berbincang-bincang dengan orang Korea (Selatan), yakni hari proklamasi kemerdekaan. Tahukah Anda kalau proklamasi kemerdekaan Indonesia dan Korea hanya selisih dua hari saja? Proklamasi kemerdekaan Korea adalah tanggal 15 Agustus 1945 sedangkan Indonesia 17 Agustus 1945. Satu lagi faktanya, Korea dan Indonesia sama-sama memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Jepang. Akan tetapi, kalau kita bandingkan kondisi Indonesia dan Korea saat ini bagaikan bumi dan langit. Korea dengan segala kemajuannya berhasil menjadi negara sangat berpengaruh di dunia di berbagi bidang. Di bidang politik internasional, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa saat ini dijabat oleh Ban Ki-Moon yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan. Di bidang ekonomi, Korea Selatan merupakan salah sat negara anggota G20 dan produk domestic bruto (GDP)-nya adalah yang terbesar ke-11 di dunia. Di bidang budaya, K-Pop dan K-Drama menyebar secara luas ke seluruh dunia, sebuah fenomena yang disebut sebagai Korean Wave. Di bidang teknologi pun sangat mentereng. Samsung adalah produsen smartphone terbesar di dunia saat ini. Korea Selatan juga merupakan negara dengan kecepatan internet tercepat di dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih disibukkan dengan konflik horizontal dan kegaduhan politik yang tidak pernah ada juntrungnya.

Bendera Korea Selatan
Pada awal-awal masa kemerdekaan, Korea dan Indonesia menghadapi masalah yang sama, yakni kemiskinan dan berbagai macam pemberontakan. Bahkan, Korea terpisah menjadi 2 pada tahun 1948 menjadi Republic of Korea (South Korea) dan Democratic People’s Republic of Korea (North Korea). Indonesia beruntung tidak sampai terpecah belah walaupun mengalami berbagai macam pemberontakan. Penduduk Korea bahkan banyak yang mengalami kelaparan saat itu. Indonesia pun menghadapi problem kemiskinan yang rumit setelah dijajah selama ratusan tahun. Ada satu perbedaan mencolok antara Korea dan Indonesia, yakni Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam sedangkan Korea hampir tidak punya. Akan tetapi, bangsa Korea tidak mudah menyerah oleh kondisi alam dan geografis yang tidak menguntungkan. Mereka berusaha memaksimalkan sumber daya yang terbatas hingga berhasil menjadi negara maju seperti saat ini.

Minggu, 27 Maret 2016

Stop Eksploitasi Anak! Heal The World We Live In, Save It For Our Children

Beberapa hari terakhir ini, media massa nasional kembali mengangkat berita mengenai eksploitasi anak. Hal itu terjadi setelah pada Hari Kamis (24/3/2016) Polres Jakarta Selatan menangkap 4 orang pelaku eksploitasi anak di sekitar Blok M. Para pelaku menyewakan anak untuk dipaksa mengemis, mengamen, atau menjadi joki 3 in 1. Jika menolak, mereka akan dipukul atau ditampar. Salah satu korban eksploitasi bahkan bayi berusia 6 bulan. Bayi tersebut dibawa mengemis agar orang-orang yang melihatnya merasa iba dan memberi banyak uang. Bayi akan diberi obat penenang agar tidak rewel saat diajak mengemis.

Beragam reaksi masyarakat atas muncul atas berita penangkapan pelaku eksploitasi anak tersebut, terutama para netizen. Umumnya mereka bersyukur atas penangkapan tersebut, tetapi juga menyayangkan mengapa baru sekarang dilakukan. Kasus eksploitasi anak untuk tujuan ekonomi seperti itu memang bukan hal baru. Hampir di semua kota besar di Indonesia dapat kita temui ibu-ibu mengemis dengan mengendong anak kecil yang tidak pernah menangis atau anak-anak mengamen dengan menyodorkan amplop kecil bertuliskan permintaan belas kasihan untuk biaya hidup dan sekolah. Tempat bereka beroperasi biasanya di bis kota, terminal, halte, stasiun, dan perempatan jalan yang ramai.

Sebagai orang yang tinggal di kota besar, tepatnya Serpong, Tangerang Selatan, saya pun sering menyaksikan pemandangan di atas. Akan tetapi, baru sekali ini memergoki “pengasuh”nya. Dua hari sebelum kasus ini ramai diberitakan, Selasa (22/3/2016) sekitar pukul 06.20 saya menyaksikan langsung praktik eksploitasi anak di perempatan German Center, BSD. Seperti  biasa, saya menunggu bus jemputan kantor di halte sebelah Lapangan Sunburst. Di sebelah saya ada seorang ibu paruh baya. Awalnya saya mengira ibu tersebut sedang menunggu bus atau angkot. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 ~ 5 tahun menghampiri dan memanggilnya “Mami” sambil menyerahkan segepok amplop. Si anak berkata dengan nada takut bahwa ia baru dapat sedikit. Saya tidak ingat persis kata-kata si anak karena sangat terkejut. Si ibu menggumamkan sesuatu sambil memasukkan amplop-amplop ke dalam tas cokelat yang dibawanya kemudian mengambil segepok amplop yang lain. Sejurus kemudian ia menyerahkan amplop-amplop yang baru tersebut ke si anak. Si anak langsung kembali ke perempatan menyelip di antara mobil-mobil yang sedang berhenti di lampu merah. Saat itu, saya sudah sadar dari keterkejutan dan menyadari bahwa peristiwa barusan adalah salah satu bentuk eksploitasi anak. Saya sempatkan untuk memotret si anak walau sudah menjauh. Si ibu juga berhasil saya ambil gambarnya. Dengan diam-diam tentunya. Tak lama kemudian bus jemputan datang. Ketika saya sudah duduk di dalam bis, saya sempatkan untuk menengok si ibu. Saya terkejut untuk kedua kalinya. Di samping si ibu duduk ada seorang anak perempuan sedang tertidur lelap di bangku halte. Pakaian dan tubuhnya tampak kotor. Sayang, saya tidak sempat memotretnya karena bus keburu jalan.

Minggu, 20 Maret 2016

Awas!!! Penipuan Modus Tebar Kupon Di Depan Rumah Marak Lagi

Sabtu pagi (3/19) kemarin, saya menemukan sesuatu yang tidak biasa saat pertama keluar rumah untuk sekedar menghirup udara pagi. Begitu membuka pintu depan, mata saya langsung tertuju pada sebuah bungkusan plastik kecil berukuran sekitar 3 cm x 6 cm. Karena penasaran, saya langsung mengambilnya. Bungkusannya sangat rapi dan didalamnya  terdapat kertas yang dilipat begitu rapi pula. Semakin penasaran, saya pun membuka bungkus plastiknya. Didalamnya terdapat 2 carik kertas dan 1 buah kupon. Satu kertas adalah surat pemberitahuan pemenang yang menerangkan bahwa siapapun yang menemukan kupon tersebut mendapatkan hadiah 1 unit mobil Toyota Avanza dari PT Harum Alam Segar selaku produsen Top Kopi. Sementara itu, satu kertas lain merupakan surat izin penyelenggaraan acara dari Polda Metro Jaya. Di situ juga dicantumkan pejabat-pejabat yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut, antara lain Dr. Naldy Suparman (direktur PT Harum Alam Segar), Kombes Pol Drs. Diki Riansyah, S.H., M.Hum. (Dirlantas Polda Metro Jaya), Dra. Hj. Resti Ayunita (Departemen Sosial), dan Drs. M. Irwanto, S.H. (notaris/pengacara).
Kupon di letakkan di depan pintu rumah

Minggu, 13 Maret 2016

Fenomena Maraknya Sharing Berita Hoax : Dari Malas Berpikir Sampai Fanatik Buta

Media sosial (medsos) berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Saat ini, fungsi tidak hanya sebagai ajang pertemanan saja, tetapi juga sebagai media berbagi informasi (sharing), ajang promosi bisnis, sampai kampanye politik. Sayang, tidak semua kegiatan di atas beraroma positif. Saat musim kampanye legislatif, presiden, gubernur, bupati, atau walikota, pendukung calon-calon yang bertarung banyak memanfaatkan medsos  untuk saling menyerang dan menjatuhkan lawan, bahkan cenderung kepada kampanye hitam (black campaign). Salah satu cara yang paling sering digunakan adalah dengan membagi (share) berita, artikel, atau status yang menguntungkan pihaknya dan menyerang pihak lawan. Sialnya, apa yang mereka sebar dan bagikan banyak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat Indonesia memang sangat mudah tenggelam dalam euforia terhadap sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Saat menjelang pemilu, hampir semua orang akan tenggelam dalam hingar bingar kampanye. Ketika piala dunia sedang berlangsung, sepak bola akan menjadi topik yang dibahas oleh berbagai kalangan. Begitu pula ketika ada gejolak atau fenomena tertentu di masyarakat. Berkat medsos, kejadian kecil pun bisa booming hingga seluruh pelosok negeri. Berawal dari hingar bingar semacam inilah para pengguna medsos mulai rajin untuk berbagi informasi mengenai topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Lama-kelamaan, beberapa orang pun berusaha untuk “menciptakan” trending topic sendiri. Apapun yang menurutnya menarik, akan dibagikan di akun medsos miliknya tanpa dicek terlebih dahulu kebenaran informasinya.